Peyeum yang merupakan kuliner khas dari Tanah Sunda ini, dulunya dianggap sebelah mata oleh sebagian orang karena peuyeum dianggap sebagai makanan masyarakat menengah ke bawah. Peuyeum awalnya biasa dijual keliling desa dengan pikulan, namun kini dipinggiran sepanjang jalan
Kota Bandung telah banyak toko-toko yang menjual jajanan khas ini.
Peyeum atau masyarakat kita sering menyebutnya dengan tapai, merupakan kudapan berbahan dasar singkong yang dihasilkan dari proses fermentasi bahan pangan berkarbohidrat sebagai substrat oleh ragi. Tekstur peuyeum singkong begitu kering di permukaan luar, tetapi terasa lumer dan lembut begitu digigit. Rasanya yang manis membuat peuyeum singkong banyak disukai.

Untuk tujuan komersil, para pedagang peyeum mulai memajang
singkong yang masih dalam proses peragian menjadi peyeum, dengan tingkat
pematangan yang masih ¾, di gantung di etalase-etalase khusus. Kudapan manis ini banyak dijadikan pilihan sebagai oleh-oleh khas bagi para wisatawan yang berkunjung ke Kota Bandung.
Terlihat sekali bahwa popularitas peyeum dulu dan kini berbeda. Peyeum yang dulunya dianggap sebelah mata oleh sebagian orang, kini semakin eksis seiring dengan berjalannya waktu. Bahkan peyeum saat ini tak hanya digemari oleh urang Sunda, tetapi juga lintas provinsi.