Kamis, 22 Agustus 2013

Peyeum "Dulu dan Kini"


KulinerplusPeyeum yang merupakan kuliner khas dari Tanah Sunda ini, dulunya dianggap sebelah mata oleh sebagian orang karena peuyeum dianggap sebagai makanan masyarakat menengah ke bawah. Peuyeum awalnya biasa dijual keliling desa dengan pikulan, namun kini dipinggiran sepanjang jalan Kota Bandung telah banyak toko-toko yang menjual jajanan khas ini.

Peyeum atau masyarakat kita sering menyebutnya dengan tapai, merupakan kudapan berbahan dasar singkong yang dihasilkan dari proses fermentasi bahan pangan berkarbohidrat sebagai substrat oleh ragi. Tekstur peuyeum singkong begitu kering di permukaan luar, tetapi terasa lumer dan lembut begitu digigit. Rasanya yang manis membuat peuyeum singkong banyak disukai.

KulinerplusUntuk tujuan komersil, para pedagang peyeum mulai memajang singkong yang masih dalam proses peragian menjadi peyeum, dengan tingkat pematangan yang masih ¾, di gantung di etalase-etalase khusus. Kudapan manis ini banyak dijadikan pilihan sebagai oleh-oleh khas bagi para wisatawan yang berkunjung ke Kota Bandung.

Terlihat sekali bahwa popularitas peyeum dulu dan kini berbeda. Peyeum yang dulunya dianggap sebelah mata oleh sebagian orang, kini semakin eksis seiring dengan berjalannya waktu. Bahkan peyeum saat ini tak hanya digemari oleh urang Sunda, tetapi juga lintas provinsi.

Senin, 19 Agustus 2013

Madumongso Khas Madiun

Madiun, Kota yang mempunyai julukan "Kota Brem" ini tidak hanya terkenal akan penghasil bremnya saja. Sebut saja madumongso, jajanan khas ini memiliki popularitas yang cukup diminati oleh kalangan pecinta kuliner. Rasanya yang asam bercampur manis, membuat madumongso sering dijadikan pilihan sebagai oleh-oleh khas dari Kota Madiun.


Madumongso adalah makanan olahan dari ketan hitam. Ketan hitam sebelumnya diolah dahulu menjadi tape melalui proses fermentasi. Setelah itu, tape ketan hitam yang telah jadi kemudian diolah lagi dengan menambahkan gula Jawa dan santan hingga menjadi seperti dodol atau jenang. Kemudian dikemas dalam plastik berukuran 5-10 cm dan dihias dengan kertas warna-warni untuk menarik perhatian. Rasanya yang asam bercampur manis dan gurih, membuat madumongso dicintai dan diburu para pecinta kuliner jajanan khas terlebih penikmat dodol ataupun jenang.


Proses pembuatan madumongso terbilang cukup rumit dan membutuhkan keahlian khusus. Untuk menciptakan rasa manis dengan sedikit asam dibutuhkan waktu dua hari. Diawali dengan mencampurkan komposisi beras ketan hitam dan putih, bahan tersebut ditanak hingga menjadi nasi. Selanjutnya nasi ketan itu diproses dengan ragi tape melalui fermentasi selama dua hari. Jika sudah dianggap layak, bahan tersebut ditambahkan gula kelapa dan dimasak dalam tungku api selama 7 jam.


Sumber : http://www.kulinerplus.com/146/Kabupaten-Madiun? / tempo.co.id